Dunia trading modern mengenal satu narasi yang terdengar sangat menarik: trader retail bisa mengelola dana besar tanpa modal pribadi, cukup lulus challenge dari sebuah proprietary firm (prop firm). Di permukaan, konsep ini tampak adil, bahkan revolusioner. Namun, ketika ditelusuri lebih dalam, ada mekanisme bisnis yang jarang dijelaskan secara gamblang kepada publik.
Artikel ini tidak bertujuan menakut-nakuti, apalagi menghakimi. Tujuannya sederhana: membongkar struktur bisnis prop firm apa adanya, agar pembaca awam memahami konteks utuh sebelum memutuskan terlibat.
Sebelum membahas isu yang lebih sensitif, penting untuk memulai dari pertanyaan paling mendasar: sebenarnya dari mana sumber uang utama prop firm berasal?
1. Mesin Uang Utama: Challenge Fee
Sumber pendapatan paling besar dan paling stabil bagi mayoritas prop firm bukan berasal dari profit market, melainkan dari biaya ujian atau challenge fee.
Skemanya sederhana. Trader membayar biaya di muka untuk mengikuti challenge. Statistik industri menunjukkan bahwa sekitar 80–95 persen peserta gagal. Artinya, sebagian besar uang yang masuk tidak pernah kembali ke trader.
Secara matematis, bisnis ini tidak membutuhkan banyak trader sukses. Cukup ada segelintir yang lolos untuk menjaga citra dan testimoni. Misalnya, dari 1.000 peserta yang masing-masing membayar 100 dolar, prop firm menerima 100.000 dolar. Dari jumlah itu, mungkin hanya 50 orang yang lolos tahap awal, dan hanya 5–10 yang benar-benar konsisten.
Sisanya? Biaya hangus, tanpa kewajiban pengembalian apa pun.
Namun, challenge fee bukan satu-satunya aliran dana. Di balik kegagalan pertama, ada sumber pendapatan lanjutan yang sering luput dari perhatian.
2. Reset Fee dan Siklus Psikologis Trader
Ketika trader gagal, cerita tidak selalu berhenti. Banyak yang memilih mencoba lagi dengan membayar reset fee atau membeli challenge baru.
Di sinilah faktor psikologis berperan besar. Frasa seperti “tinggal sedikit lagi”, “salah timing”, atau “kurang sabar” membuat trader merasa kegagalan bukan karena sistem, melainkan kesalahan pribadi yang bisa diperbaiki di percobaan berikutnya.
Padahal, struktur challenge sering kali dirancang dengan target dan batasan yang membuat timing trader retail selalu berada di posisi mepet. Siklus gagal–ulang–gagal inilah yang menjadi pemasukan berulang bagi prop firm.
Di titik ini, biasanya muncul pembelaan yang terdengar logis: bukankah prop firm menggunakan harga market nyata?
3. Feed Nyata, Risiko Tidak Nyata
Benar, harga yang digunakan umumnya berasal dari market feed nyata. Namun, akun yang digunakan mayoritas trader adalah akun simulasi.
Akun ini tidak langsung terhubung ke liquidity provider dan tidak memiliki exposure ke market sesungguhnya. Konsekuensinya jelas: ketika trader mengalami kerugian besar, tidak ada uang riil yang keluar dari kantong prop firm.
Sebaliknya, ketika trader mencetak profit, barulah itu menjadi potensi beban. Inilah alasan mengapa payout diawasi sangat ketat dan proses seleksi dibuat ekstrem.
Jika kerugian trader tidak memengaruhi keuangan perusahaan, maka muncul pertanyaan lanjutan: dari mana asal uang payout bagi trader yang profit?
4. Skema Cross-Subsidy: Dibayar oleh yang Gagal
Payout kepada trader yang berhasil umumnya tidak berasal dari profit market, melainkan dari akumulasi fee trader lain yang gagal.
Model ini bekerja selama rasio kegagalan tetap tinggi. Banyak yang gagal, sedikit yang dibayar. Selama keseimbangan ini terjaga, bisnis berjalan sehat.
Ini bukan teori konspirasi, melainkan model bisnis statistik yang dingin dan terukur.
Lalu bagaimana jika ada trader yang terlalu konsisten dan menghasilkan profit besar?
5. Ketika Trader Terlalu “Tajam”
Trader yang konsisten dalam jangka panjang justru menjadi anomali dalam sistem ini. Biasanya, prop firm akan mengambil salah satu atau kombinasi dari beberapa langkah berikut.
Pertama, delay dan review manual dengan alasan investigasi aktivitas mencurigakan atau pelanggaran kecil yang baru dipermasalahkan.
Kedua, pengetatan aturan secara halus, seperti pembatasan lot, trailing drawdown yang semakin menyulitkan, atau aturan news trading yang diperketat.
Ketiga, trader tetap dibiarkan profit, tetapi tidak pernah benar-benar dikopi ke market. Ia menjadi statistik internal, bukan aset yang diberdayakan.
Menariknya, prop firm justru sering terlihat ramah terhadap gaya trading tertentu. Fenomena ini juga patut dikritisi.
6. Mengapa Scalper Lebih Disukai?
Bukan karena prop firm mencintai skill agresif. Scalping dan intraday agresif memiliki variance tinggi, emosi cepat terkuras, dan tingkat pelanggaran aturan yang besar.
Hasilnya adalah churn tinggi: lebih banyak kegagalan, lebih banyak reset, dan lebih banyak fee yang masuk. Sebaliknya, trader swing yang konservatif dan stabil justru kurang ideal bagi model bisnis ini.
Sampai di sini, muncul pertanyaan besar yang sering disederhanakan secara ekstrem.
7. Apakah Prop Firm Penipuan?
Jawabannya tidak hitam-putih. Prop firm umumnya legal. Namun, mereka bukan perusahaan funding dalam arti tradisional.
Lebih tepat jika disebut sebagai perusahaan seleksi berbayar. Seleksi ini dibuat sangat sulit, dengan aturan yang sering kali tidak ramah terhadap karakter trader retail, agar probabilitas gagal tetap dominan.
Secara hukum mungkin sah. Secara etika, wilayahnya abu-abu. Dan dari sisi kejujuran marketing, klaimnya sering kali terlalu manis.
Terakhir, ada satu pertanyaan krusial yang jarang diajukan secara terbuka.
8. Pertanyaan yang Jarang Ditanyakan
Jika prop firm benar-benar ingin menghasilkan profit dari trader, mengapa tidak merekrut trader internal dengan gaji dan bonus? Mengapa tidak transparan soal penggunaan A-book dan B-book?
Jawabannya sederhana dan tidak romantis. Challenge fee jauh lebih stabil daripada profit trader.
Memahami hal ini bukan untuk membuat orang menjauh, tetapi agar setiap keputusan diambil dengan sadar, bukan sekadar tergoda narasi. Dalam dunia trading, kejelasan struktur bisnis sama pentingnya dengan strategi entry dan exit.